Kelok S Ngarai Sianok: Keindahan yang Memakan Korban, Rem Blong Tewaskan Syafnita di Jalan Maut
iNews Bukittinggi– Ngarai Sianok, dengan lembah hijau yang memesona dan tebing-tebingnya yang dramatis, adalah mahkota pariwisata Sumatera Barat. Di jantung keindahan ini, berkelok-kelok sebuah jalan yang menjadi penghubung sekaligus momok: Kelok S. Nama ini tidak asing di telinga pengendara, sering diucapkan dengan campuran kagum dan was-was. Pada Rabu, 29 Oktober 2025, pukul 08.00 WIB, keindahan Kelok S berubah menjadi panggung tragedi. Sebuah kecelakaan tunggal merenggut nyawa seorang perempuan muda, Syafnita, asal Sungai Jariang, dan melukai pengendaranya, Imelda. Insiden yang diduga akibat rem blong ini bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga pertanyaan besar tentang keselamatan di jalur yang terkenal ekstrem ini.
Babak Nahas di Tikungan Maut
Berdasarkan laporan Kasat Lantas Polresta Bukittinggi, AKP M. Irsyad Fathur R, peristiwa ini berawal ketika sepeda motor Yamaha Mio yang dikendarai Imelda, dengan penumpang Syafnita, melaju dari arah Simpang Sungai Jariang menuju Bukittinggi. Perjalanan pagi yang seharusnya biasa, berubah menjadi malapetaka saat mereka tiba di Kelok S.
Kelok S bukanlah jalan biasa. Ia adalah rangkaian turunan curam dan tikungan tajam yang menuntut kewaspadaan dan kendali penuh. Di sinilah, menurut penyelidikan awal, motor Mio yang ditumpangi korban mengalami rem blong. Kehilangan kendali atas kecepatan di jalur seperti ini ibarat hukuman mati. Motor pun oleng dan terlempar, menjatuhkan kedua penumpangnya dengan keras ke aspal jalan. Mereka terkapar, tak berdaya, di “jalan maut” yang telah menelan banyak korban sebelumnya.
Baca Juga: Di Jantung Kota Yang Berhawa Sejuk Sebuah Perjalanan Mengukuh, Tumbuh, dan Bersama
Korban dan Duka yang Tertinggal
Dampak kecelakaan itu sangat parah. AKP Irsyad menjelaskan, pengendara, Imelda, menderita luka robek di kepala dan patah tulang belikat kanan. Sementara penumpangnya, Syafnita, mengalami nasib yang lebih tragis. Ia juga menderita luka robek di kepala, namun nyawanya tidak tertolong. Syafnita menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Ibnu Sina Bukittinggi.
Sosok Syafnita, yang berasal dari Sungai Jariang, kini hanya tinggal kenangan bagi keluarganya. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa di balik statistik kecelakaan, ada nama, ada wajah, dan ada keluarga yang harus menanggung duka yang mendalam. Sementara itu, Imelda masih harus berjuang melawan lukanya dan trauma mendalam, menjalani perawatan di RS yang sama.
Viral di Media Sosial dan Sorotan Publik
Seperti banyak tragedi di era digital, kejadian ini dengan cepat menjadi viral di media sosial. Video dan foto dari TKP beredar luas, memantik gelombang simpati, doa, dan juga kritik. Viralnya insiden ini bukan sekadar sensasi, tetapi merupakan cermin dari keprihatinan publik yang mendalam. Setiap warganet yang melihat visual kecelakaan itu seakan diingatkan kembali betapa rawannya nyawa di Kelok S.
Viralitas ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak. Ia menegaskan bahwa Kelok S bukanlah tantangan biasa; ia adalah jalur yang membutuhkan pendekatan serius dari sisi rekayasa jalan, penegakan hukum, dan kedisiplinan pengendara.












